Christian Pulisic lagi-lagi jadi bahan obrolan di kalangan fans Serie A. Bukan karena mencetak gol indah atau umpan kelas dunia, tapi justru karena performanya yang lagi seret bareng AC Milan. Masuk tahun 2026, winger asal Amerika Serikat itu belum juga buka rekening gol di liga, sebuah kondisi yang cukup kontras dibanding awal musim yang sempat bikin publik San Siro terpukau.
Padahal, kalau ditarik ke belakang, Pulisic sempat jadi salah satu senjata paling mematikan Milan. Ia tampil agresif, penuh percaya diri, dan sering jadi pemecah kebuntuan. Tapi kini, ceritanya sedikit berbeda. Dalam delapan laga Serie A yang dimainkan sepanjang 2026, kontribusi golnya masih nihil. Situasi ini ikut berpengaruh pada posisi Milan yang makin tertinggal dari Inter Milan di papan klasemen.
Awal Musim yang Bikin Ekspektasi Melonjak
Di paruh pertama musim, Pulisic tampil seperti potongan puzzle yang pas buat permainan Milan. Ia mencetak delapan gol dan dua assist hanya dari 11 pertandingan liga. Pergerakannya lincah, tusukannya tajam, dan finishing-nya klinis. Banyak yang menilai Milan akhirnya menemukan winger ideal yang bisa konsisten bikin perbedaan.
Performa tersebut membuat ekspektasi publik ikut naik. Setiap kali Pulisic pegang bola, ada rasa “ini bakal jadi peluang”. Ia bukan cuma rajin cetak gol, tapi juga membuka ruang buat rekan setimnya. Singkatnya, Pulisic adalah paket komplet di sisi sayap.
Cedera Datang, Ritme Ikut Hilang
Masalah mulai muncul ketika Pulisic mengalami cedera hamstring saat jeda internasional. Ia harus menepi cukup lama dan kehilangan momentum. Meski sempat kembali merumput, kondisi fisiknya belum benar-benar ideal. Setelah itu, gangguan kebugaran lain datang dan bikin menit bermainnya tidak konsisten.
Situasi ini jelas memengaruhi performa di lapangan. Pulisic jadi lebih sering masuk sebagai pemain pengganti, ritme permainannya naik-turun, dan sentuhan akhirnya tak setajam sebelumnya. Beberapa peluang emas sempat hadir, tapi gagal dikonversi jadi gol.
Tekanan Bertambah di Tengah Persaingan Ketat
Mandeknya Pulisic datang di saat yang kurang pas. Milan sedang butuh poin demi poin untuk tetap menempel papan atas. Ketika jarak dengan Inter makin melebar, sorotan ke lini serang pun makin besar. Nama Pulisic otomatis ikut terseret karena perannya yang krusial.
Meski begitu, menilai Pulisic hanya dari statistik gol jelas kurang adil. Kontribusinya dalam build-up, pressing, dan membuka ruang masih terasa. Tinggal soal waktu sampai kepercayaan dirinya kembali dan gol-gol itu mengalir lagi.
Musim Belum Berakhir
Musim belum berakhir dan peluang selalu terbuka. Pulisic masih punya kualitas, pengalaman, dan mental untuk bangkit dari fase sulit ini. Dengan jadwal yang masih panjang, satu gol bisa jadi pemicu kembalinya performa terbaiknya.
Buat Milan, kebangkitan Pulisic bisa jadi pembeda di sisa musim. Dan buat sang pemain sendiri, fase ini mungkin cuma jeda singkat sebelum kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain yang paling tajam.